Janji Pada Temu Yang Panjang

Tag

, , , , ,

Kita sepakat untuk bersua, pada jam dan tempat biasa. Pintamu aku harus tiba tepat waktu, sebab ada ingin dalam dirimu menyaksikan senja bersamaku. Tentu saja aku setuju, bukan soal bagiku untuk datang lebih awal dan menunggu langkah kakimu.

Di tempat biasa, pada letak meja yang biasa, sudut ruang di mana senja menyelusupkan cahaya, aku telah di sana ketika kemacetan kota kian menggila. Kau? Kau tak jua tiba.

Kopi yang aku pesan telah tandas, hilir mudik pengunjung kian deras, pada pesanan kopi kedua aku menaruh cemas. Pertanyaan juga duga sangka mulai mengajakku segera berkemas. Yakinku yang baru separuh naik; kau tidak akan tiba sebagai kabar baik.

Klakson sampai pada pendengaranku, raung mesin, peluit pengatur simpang jalan, lengkap pada segala yang mataku bisa tangkap; hilir mudik mahasiswa di trotoar, ibu-ibu yang kebingungan dalam kemacetan, anak yang menangis, pemuda yang tak sabar, polisi lalu lintas putus asa, rambu lalu lintas yang kehilangan fungsinya, dan keberadaanmu yang tak juga aku tahu di mana.

Mendung, datang seperti sebuah kabar lain. Kota segera berkawan hujan, walau mendung tak berarti hujan, tapi senja akan tertutup pekat hitam awan. Lantas, rencana kita? Sua dan cerita bersama segelas kopi dan senja?

Kopi gelas kedua menyisakan cecap terakhir, dalam hatiku entah rasa apa untuk menggambarkan khawatir. Mendung kian melebarkan komplotannya, dan kau tak jua tiba. Pada kecapan terakhir kopiku yang dingin, dan segala curiga yang tak aku ingin. Aku sendiri, di sana, di meja biasa, pada janji pertemuan kita. Dan senja sudah habis aku nikmati sendiri, meski pun mendung menghalangi indahnya sesekali. Aku pulang, semoga esok kita bisa berjanji untuk bersua lagi.

-Oh iya, gambar pada posting ini adalah Buku Kumpulan Puisi 101 Penyair Maya Memuisikan Mencari Penyair. Kau boleh sekali memilikinya.

Yogyakarta, 9 Desember 2018
Ryan Ari Rap

Iklan

Pre Order Buku Kumpulan Puisi Pertama Memuisikan

Tag

, , , ,

Baiklah nak, akhirnya kau berhasil menyatu dalam lembar-lembar kertas, aku turut bangga juga haru atas kelahiranmu. Bahwa kini 101 Puisi dari 101 Penyair memiliki rumah bersama, adalah satu dari sekian hal yang tidak pernah aku bayangkan ketika kali pertama membuat akun Instagram @memuisikan, tidak pernah! Bahkan sekadar membayangkan akan ramai manusia bergumul di dalamnya pun tidak aku bayangkan sebelumnya.

Memuisikan telah menjelama menjadi bentuk lain, dia adalah milik publik, siapa saja boleh masuk dan bercengkrama, berkumul dan apa saja. Pun jika pada akhirnya lahir sebuah Buku Puisi Pertama ini, adalah hadiah yang bisa kami sambungkan sebagai bentuk sua menuju persembunyianmu.

Begitu banyak mereka yang terlibat, Istriku dan kawan-kawan yang sabar menimang sampai semua siap merangkak, kawan-kawan yang tidak pernah berjumpa denganku dalam nyata namun berkontribusi luar biasa, adalah cambuk yang memaksa kuda-kuda aksara kembali pada jalan menemukan rumahnya. Karenanya aku kembali menulis di sini.

Baiklah, Memuisikan telah melahirkan buku, pada 101 anak yang telah lahir dari begitu banyak onani yang telah terjadi. Selamat meraya ruang, menyapa pembaca di ruang tidur, ruang tamu, perpustakaan dan di mana mereka mau. Selamat!

Dan bagimu, kesempatan mendapatkan Buku Pertama ini masih terbuka lebar, selebar rinduku padamu yang masih sulit mencipta temu.

Bagaimana untuk mendapatkannya? Gampang sekali. Silakan menghubungi 0895331371290 via Whatsapp. Kamu akan dipandu sampai buku itu menjadi milikmu, sampai kau mengasuh anak-anak yang terkumpul dalam rumah Memuisikan itu.

Terima kasih. Salam.

Pre Order Buku Dari Bilik Pesantren + Ahmad Khadafi

Tag

, , , ,

*PRE ORDER*

Bukanya marah, Kiai Ma’ruf sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini. Untuk menanggulangi agar tidak terjadi hal yang sama, sandal Kiai Ma’ruf akhirnya ditulis dengan nama ‘Abah’. Harapannya agar santrinya tahu bahwa sandal ini punya pengasuh, sehingga tidak dighasab lagi. Awalnya, ide ini memang membuahkan hasil. Sandal Kiai Ma’ruf tidak lagi hilang seperti sebelum-sebelumnya. Namun semua berubah saat suatu waktu sandal yang berlabel tulisan ‘Abah’ ini hilang.

Kumpulan esai kehidupan santri di pesantren yang syarat nilai-nilai kehidupan dan disertai dengan kisah-kisah santri yang mengelitik.

Reguler: Rp60.000
Selama Pre Order: Rp48.000 (12-18 November 2018

Judul: Dari Bilik Pesantren
Penulis: Ahmad Khadafi @dafidab (Redaktur mojok.co)
Penerbit: EA Books
Jumlah Halaman: xxviii + 253 hlm.

Buku Baru, Buku Humor ala pesantren. Pre Order.