Setelah Mendung Tahun Lalu

Tag

, ,

Aku pernah jatuh yang begitu dalam, sampai aku tidak tahu bagaimana untuk berdiri, sekedar menengok ke atas pemukaan, apa lagi untuk bangkit. Aku tidak menemukan cara, pun sekedar keinginan.

Jatuh yang teramat, pelan dan pasti membawa nikmat, tentu walau hanya sesaat, kemudian berakhir pada rasa yang saling tersesat. Aku hampir saja benar-benar ingin membagi nafasku yang hanya satu untuk dia, pun membagi nyawa yang hanya satu untuk hidupnya, juga segala apa yang aku miliki, ya membagi untuk dia.

Seperti alur cerita percintaan FTV yang selalu bisa aku tebak akhir ceritanya, begitu kiranya yang aku alami. Aku telah menebak akhir dari cerita awal yang lahir. Singkat, segala pikat, nikmat, pikat, sesat, akhirnya tak lagi bisa melekat.

Mendung datang terlalu pagi, sedang hati belum siap lagi untuk saling mengerti, yang awalnya menggebu untuk berbagi, berakhir jalan panjang untuk pegi. Mendung itu, telah hilang setahun yang lalu, lalu muncul kembali ketika cerah mulai masuk pelan dalam jiwaku.

Menjadi apa setelah ini?

Panduan singkat menulis cerpen

Tag

, , , , , ,

Sebagai salah satu karya fiksi, cerita pendek atau cerpen memiliki isi cerita yang relatif lebih pendek jika dibandingkan dengan karya fiksi lainnya misalnya novel. Dalam karir sebagai seorang penulis menulis cerpen dapat menjadi awalan yang baik sebagai penulis fiksi. Mengingat cerpen lebih mudah untuk mendapatkan penerbit missal majalah, koran atau penerbit digital. Walau terlihat sederhana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis cerita pendek. Tulisan ini ditujukan pada penulis pemula yang ingin belajar menulis cerita pendek.

Tema

Tema adalah gagasan pokok yang mendasari dari sebuah cerita. Tema pada sebuah cerita umumnya dapat langsung terlihat jelas di dalam cerita (tersurat) dan tidak langsung, di mana si pembaca harus bisa menyimpulkan sendiri (tersirat).

Sebelum memulai menulis cerpen. Sebaiknya kita sudah memiliki gambaran awal tema seperti apa yang ingin anda tuangkan dalam cerpen, pesan apa yang ingin kita sampaikan kepada pembaca. Tema yang baik akan mampu memberi kesan kepada pembaca. Pemilihan tema dari awal juga berguna sebagai pedoman ketika kita menulis, agar kita tidak mondar mandir atau melenceng dalam menuliskan cerita tersebut.

Alur cerita (plot)

Alur atau Plot adalah jalan dari cerita dalam karya sastra. Secara garis besarnya urutan atau tahapan alur dalam sebuah cerita adalah: perkenalan > mucul konflik / permasalahan > peningkatan konflik > puncak konflik atau klimaks > penurunan konflik > penyelesaian.

Perlu kita perhatikan bahwa dalam menulis cerpen kita harus fokuslah pada satu alur cerita sesuai dengan tema yang sudah ditetapkan sebelumnya. Jika kemudian muncul karakter tambahan, sejarah, latar belakang, dan detail lainnya harus yang dapat memperkuat alur cerita kita. Yang sering terjadi dalam menulis adalah terjadinya percabangan alur cerita, hal ini harus di hindari.

Karakter

Mengingat ada batasan jumlah kata dalam cerpen sebaiknya kita jangan menggunakan karakter yang terlalu banyak. Semakin banyak karakter bisa membuat cerita kita menjadi terlalu panjang dan tidak fokus pada tema. Gunakan karakter secukupnya yang sesuai dengan alur cerita.

Setiap tokoh biasanya mempunyai watak , sikap, sifat dan juga kondisi fisik yang disebut dengan perwatakan atau karakter. Dalam cerita terdapat tokoh protagonis (tokoh utama dalam sebuah cerita), antagonis (lawan dari tokoh utama atau protagonis) dan tokoh figuran  (tokoh pendukung untuk cerita).

 Sepenggal kisah hidup

Sekali lagi mengingat cerpen adalah cerita pendek maka baiknya cerpen hanya menceritakan tentang sebagian kecil kisah dalam hidup karakter yang kita buat. Jika karakter Anda memiliki kisah hidup yang sangat panjang, tulis hanya sebagai latar belakang yang menjadi penguat tema cerita tersebut. Agar cerpen yang kita tulis tidak terkesan melebar atau terlalu banyak kisah yang dipaksa masuk, ada baiknya kita tekankan cerita kita hanya pada satu bagian untuk ditulis.

Penggunaan kata

Penggunaan kata harus sangat kita perhatikan, mengingat cerpen memiliki keterbatasan dalam jumlah kata yang bisa dipakai. Bagi kita yang ingin mengirim cerpen kita ke penerbit seringkali majalah atau koran benar-benar membatasi jumlah kata yang bisa dipakai. Di sini memang menjadi tantangan kita untuk dapat menggunakan pilihan kata yang efisien dan menghindari menggunakan kalimat deskriptif yang panjang. Ingat ini cerpen bukan novel.

Impresi

Secara tradisional, cerpen dimulai dengan pengenalan karakter, konflik, dan resolusi. Alternatif lain, adalah Anda dapat membuat impresi pada pembaca justru pada awal cerita, dengan langsung menghadirkan konflik. Karakter Anda sudah berada di dalam kekacauan besar. Hal ini akan membuat pembaca semakin penasaran, ada apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana karakter tersebut akan mengatasi persoalannya. Pengenalan karakter, setting, dll dapat dilakukan secara perlahan-lahan di bagian cerita berikutnya.

Kejutan

Bagian ini menjadi sangat penting, mengingat pembaca suka menebak-nembak akhir dari sebuah cerita. Maka kita sebaiknya membuat akhir cerita yang sulit untuk ditebak. Kita beri kejutan pada pembaca di akhir cerita, namun harus tetap sesuai dengan tema cerita jangan terkesan asal atau tidak berhubungan.

Konklusi

Jangan biarkan pembaca meraba-raba dalam gelap pada akhir cerita Anda. Pastikan konklusi diakhir cerita Anda memuaskan, tetapi juga tidak mudah ditebak. Pembaca perlu dibuat berkesan pada akhir cerita, tentang apa yang terjadi pada karakter tersebut. Akhir cerita yang mengesankan akan selalu diingat oleh pembaca, bahkan setelah lama mereka selesai membaca cerita tersebut.

 Karakter Fiksi yang Nyata

Mari kita ubah sedikit kebiasaan kita! Ketika akan menulis cerita pendek biasanya kita berkutat untuk mencari plot cerita. Kali ini coba kita tinggalkan plot cerita itu sebentar. Sekarang pikirkan karakter kita. Karakter kita yang akan menentukan ke arah mana cerita itu akan berjalan. Jika kita memaksakan suatu karakter masuk ke dalam suatu plot cerita, justru kita akan merusak keseluruhan karakter itu sendiri. Tetapi jika kita membiarkan karakter “memainkan perannya” dalam “dunia cerita”, karakter itulah yang akan menuliskan ceritanya untuk kita. Lalu bagaimana membuat karakter itu terasa hidup dalam berlakon? Berikut ini akan ditunjukkan beberapa tips bagaimana membuat karakter yang “terasa hidup” tersebut.

1. Karakter harus memiliki sifat dan kepribadian tertentu

Setiap karakter memiliki sifat dan kepribadian masing-masing, seperti kita juga memiliki kecenderungan kepribadian tertentu. Pilihlah kepribadian yang tepat untuk karakter Kita.Dalam hal ini kita bisa memilih satu, sampai beberapa macam kepribadian. Tentukan mana yang dominan. Seringkali kepribadian tersebut saling bertabrakan. Tidak masalah. Itu justru akan menambah hidupnya karakter.

2. Konsisten dengan kepribadian karakter

Kita harus konsisten dengan kepribadian karakter yang dipilih. Misalnya seorang yang pemalu cenderung untuk bersandar pada kelompok tertentu, atau mencari area ternyamannya sendiri. Kita tidak mungkin membuat cerita orang yang pemberani tiba-tiba menjadi penakut. Tanpa alasan yang kuat, kita tidak bisa mengubah kepribadian seseorang menjadi berubah 180 derajat dalam satu waktu yang berdekatan. Ketika kita telah merancang akhir dari sebuah certa namun karaker yang kita pilih di rasa tidak mungkin melakukan akhir kisah seperti itu, lebih baik kita buang akhiir cerita dan biarkan karakter kita menciptakan akhir ceritanya sendiri. Kita harus membuat cerita kita “masuk akal” sesuai dengan karakter  yang telah kita buat.

3. Tiada gading yang tak retak

Ada banyak penulis yang menggambarkan karakter yang ia buat dengan sangat sempurna. Karakter yang seperti ini terkadang menjadi karakter yang sangat membosankan. Ingat selalau ada sisi gelap dari setiap manusia. Karakter yang manusiawi adalah karakter yang memiliki kelebihandan juga kelemahan. Cerita kita akan lebih hidup dengan memiliki karakter yang manusiawi.

4. Buatlah pembaca mencintai karakter yang kita buat

Ketika kita bercerita biasanya kita memiliki kecenderungan untuk membuat karakter utama. Boleh jadi ketika kita sudah memiliki karakter utama, buatlah pembaca mencintai karakter utama tersebut. Bahkanseorang karakter antagonis juga bisa menjadi karakter yang dicintai oleh pembaca. Kita harus menjelaskan siapa mereka, bagaimana mereka, apa yang mereka lakukan, alasan kuat mengapa yang melakukan hal tersebut, dan tambahkan rasa manusiawi pada mereka.Pembaca mestinya juga akan berpikir mereka juga akan berbuat yang sama pada situasi yang sama. Itu akan menumbuhkan empati pada karakter yang kita buat.  Melekatnya karakter kepada pembaca akan menjad ciri khusus tersendiri bagi kita sebagai penulis di benak pembaca.

Ryan Ari Rap

Refrensi: 1. https://id.scribd.com  2. wikipedia.org

mendengarkan ego

Tag

, ,

Lama sekali  aku tidak menulis, sudah berulang untuk memutuskan tidak lagi peduli, namun kenyataan menarik kembali, lagi dan lagi. Baik aku akan memulai semua, pada lembaran kosong yang sama, jauh sebelum kita bersua maya.

Ada lelaki yang menghabiskan waktunya di meja judi, dalam waktu yang sama ada yang sedang menuang kembali gelas beer, di ruang jauh ada lelaki yang tak kunjung pulang, juga lelaki yang menyambung doa tiada hentinya, lalu ada lelaki yang menuliskan cerita lelaki lainnya. Aku tidak tahu, tepatnya menjadi lelaki yang mana dari begitu banyak lelaki yang malam ini aku temui. Satu hal, bahwa aku kembali pada titik; menulis.

Titik itu selalu saja muncul, menjadi penerjemah yang tidak sekedar egoku semata, ada sesuatu yang barang kali adalah harap, atau setidaknya sebuah penantian pada rindu, atau hanya sekedar keberlangsungan Tuhan, sebagai hamba aku hanya perlu menyerah-pasrah.

Aku dengan bodohnya berusaha melupa, bahwa segala tentang ini adalah sia-sia, tapi selalu kembali pada esok dan yang lalu membuntuti. Ego, ya ego yang tidak lagi bisa aku hitung, sebuah ego untukku, bukan sesuatu yang baru; bercerita padamu tentang sehari-hari yang ada padaku.