Mau Jualan Buku? @genrebuku buka reseller/dropship buat kamu.

Tag

, , , ,

Belakangan razia buku kembali marak. Pekerjaan rumah yang memang belum selesai sampai hari ini. Sejarah soal ini panjang sekali, mulai dari zaman penjajahan, era awal kemerdekaan, orde baru, sampai reformasi, ya masih terjadi.

Di luar peristiwa razia, buku tidak dapat lepas dari kehidupan manusia. Dalam rangkat menebar biak kebaikan. Genre Buku membuka kesempatan buat kamu yang tertarik dengan dunia buku, tertarik menjadi penjual buku. Tanpa modal? Tentu saja tanpa modal.

Langsung saja! Yang tertarik untuk jualan buku. @genrebuku membuka reseller/dropship untuk seluruh Indonesia.

Mau jadi reseller/dropship buku di daerahmu?
Gampang! Silakan hubungi @genrebuku WA 0895331371290

Genrebuku adalah jaringan penjualan buku resmi dari Penerbit Nasional, dan mitra pemasaran penerbit Indie Indonesia.

Salam literasi!

Iklan

Cukup sampai di sini

Tag

, , ,

Sudah.
Lelah.
Pasrah.
Kalah.

Kau mau aku begitu. Dengan cara diam darimu.
Menguras waktu yang lalu sebagai dalih. Membawa biak kebersamaan meminta pamrih.

Hilang.
Kenang.
Menang.

Yang terluka berkali-kali itu aku. Yang murka tak kukenali sebagi kamu. Yang tertawa dia kini sedang menunggu waktu.

Hampa.
Rupa.
Derita.

Jika sudah menjadi puncak kosong menjadi inginmu. Tak mengapa aku bukan lagi penghuni hatimu. Cukupkan saja aku asing menjadi tamu.

Na…. Na…. Naaaa….. a……
Hu…. Hu…uuuu….uuuuuuuuuu

Jarak jua akhirnya menjadi tumbal. Pada hubungan yang lama bebal. Mengulur temu pada janji abal. Dan segala cerita tak lagi bisa dirapal.

Kikis.
Habis.
Bais.

Sejarah katamu akan menemukan perahunya sendiri. Pada pelabuhan yang tak kunjung kau miliki. Dan aku.
Cukup! Sampai di sini.

Yogyakarta 1 Januari 2019 – 12:44
Ryan Ari Rap Mudjirapontur

Waktuku bersama Ibu

Tag

, ,

Hai Kamu Apa Kabarmu?

Hai kamu, apa kabarmu hari ini? Aku harap selalu baik, sehingga siap menebar biak kebaikan. Di mana pun kamu, semoga ceritaku bisa sampai padamu. Sebab sudah lama sekali rasanya kita tidak lagi bisa mencipta sua, aku rindu saat-saat kita bercerita, soal apa saja walau selalu terhenti ketika masalah politik mulai menjadi topik, atau oleh sebab Ibu hadir mengganti topik sembari menyuguhkan keripik.

Tapi kerinduanku, barang kali tidak berarti apa pun dibanding kerinduan Ibu akan kehadiranmu. Seminggu yang lalu aku pulang ke rumah Ibu, bukan aku yang Ibu tanyakan ketika aku mencium tanggangnya dan mengucap salam, tapi kamu. Ini sudah tahun ketiga sejak kali pertama kamu memutuskan menjadi anak rantau, tiga tahun yang mungkin bagimu begitu singkat namun bagi Ibu adalah waktu yang berjalan begitu lambat.

Tentu saja Ibu tidak sampai hati memaksamu segera pulang, untuk menyampaikan rasa rindunya pun Ibu tidak lagi sanggup. Begitulah Ibu, begitu caranya mencintai dan menyayangimu. Maka aku akan kisahkan setiap waktuku bersama Ibu kepadamu, setiap waktu yang selalu ada namamu. Semoga kamu masih ingat kalimat yang sama dulu kita teriakkan; “Anak Ibu bersatu tak bisa dikalahkan”.

Yogyakarta 21 Desember 2018