Tag

, ,

Foto: Google Images

Suasana sunyi saat purnama berseri pamerkan sinarnya, aku bersembunyi di balik dinding para penjaga zona pencetak manusia penerus bangsa. Tiba-tiba saja aku kembali ingin menulis tentang apa yang mungkin sangat perih dalam perjalanan hidupku. Sebenarnya aku mulai melupakan apa yang pernah aku alami, terlupa karena pengulangan yang sama terus dan terus saja mengikuti, seakan menjadi pelengkap akan penyesalan diri. Dan aku tau, kau takkan pernah tau, takkan pernah mau menyadari apa yang menjadi kesadaran terbesar dalam hidupku.

Kau dan aku tercipta dari sekian banyak perbedaan yang harus kita pikul sejak kita dilahirkan. Kau pernah sepakat bahwa jika kau diberi pilihan, kau tak ingin terlahir dari rahim ibumu atau tercipta dari seperma ayahmu atau menjadi bagian sedarah dari adik dan kakamu. Aku tak sekejam itu memandang asal mula kehidupanku. Ya mungkin karena aku lebih beruntung dalam beberapa hal kecil. Kau masih ingat saat kita menghabiskan waktu bersama diterik katulistiwa, bersembunyi di balik semak belukar dan kita bercerita tentang mengapa manusia berpasang-pasangan? Kita terlalu cukup dewasa sebenarnya untuk mendebat hal itu namun seolah anak seusia adikmu yang masih TK kau terus saja memaksa aku melayani teori-teorimu. Mengapa harus ada malam yang memisahkan tatapan kita, mengapa ada hujan yang menghalangi pertemuan kita. Kau selalu mendebat masalah itu, terus dan terus. Belum lagi pasal impianmu yang begitu besar, tentang perjalanan manusia di muka bumi yang di dalamnya ada kau dan aku. Sejujurnya aku tak pernah mengerti apa yang kau bicarakan.

Kau masih ingat di mana pertama kali kita bertemu? Setiap kali aku menanyakan ini, kau selalu menjawab “mengapa kita dipertemukan” aku tau kau selalu lupa di mana kita pertama kali bertemu. Sayangnya kau terlalu egois untuk mengakui daya ingatmu yang rendah itu. Walau harus aku akui kau memiliki segudang alasan untuk menenangkan amarahku saat aku kecewa akan jawabmu yang sekenanya. Kau memang hebat urusan meredam amarah orang lain, aku masih ingat saat kau melerai kakak tirimu yang memaki pamanmu. Dengan sedikit sentuhan kata kau selalu mampu membuat mereka berdamai, aku masih saja tak habis pikir mengapa kau bisa sehebat itu. Pamanmu memang egois, tapi kakak tirimu juga sering menyiksamu, untungnya kau tak menjadi salah satu dari mereka.

Tapi ada hal di mana kau kalah. Tentang perasaan, utamanya rasa cinta. Kau selalu kalah mendebat masalah cinta, entah memang tak tertarik atau memang tak mengerti apa itu cinta. Atau kehidupanmu yang keras mencetakmu buta akan cinta, tapi cinta bukannya memang buta seperti yang pernah kau tulis dalam surat botolmu dulu? Bodohnya aku mengingat pasal surat botol lagi, apa surat botol itu masih mengantung di pohon kita atau sudah tengelam bersama tumbangnya sang pohon? Maafkan aku karena tak sekalipun kusempatkan waktu untuk sekedar datang melihat pohon kehidupan di mana dulu kita sering menghabiskan berlembar-lembar kertas untuk menulis apa yang kita rasakan. Seperti halnya dirimu aku tak lagi tinggal di pulau itu, sekedar kau tau saja.

Sejak kau memilih berkelana seorang diri, aku tak lagi peduli tentang segala kemungkinan hidup yang dulu pernah kita tulis begitu rapi. Aku muak menyoal benih padi, aku muak menyoal bibit pohon, aku muak melihat hutan apa lagi harus duduk menikmati senja di bawah pohon kehidupan milik kita. Sungai semakin keruh, gelondongan kayu memenuhi jalan rakitku, tongkang-tongkang besar yang berkuasa atas air dan kau sama sekali tak peduli, untuk apa aku peduli. Sebagai prajurit, aku telah kehilangan kapten, kompas arah pulang atau peta perlawanan tak ada di tanganku. Bagaimana mungkin aku bisa menghentikan kegilaan manusia-manusia tua itu. Jangan pernah menyalahkan aku saat kau tersadar pulaumu tak sadarkan diri lagi. Hanya saja kau takan pernah lagi melihat pulaumu. Terlalu jauh kau melangkahkan kaki, sangat jauh. Aku tak tau bagaimana mengejarmu.

Pagi ini sebenarnya aku tak ingin mengingat banyak tentang kebodohan kita dan setumpuk tulisan surat dalam botol yang kita gantungkan di dahan pohon kehidupan. Aku ingin bercerita pasal perjalananku. Aku tau kau tak sedang ingin membaca tulisanku, tapi bukankah sejak dulu kau tak pernah mau membaca tulisanku. Peduli apa, aku tak lagi takut denganmu kapten! Ingat itu.  Banyak hal yang harusnya kau ada di dalamnya. Agar aku tak begitu monoton menulis jurnal harianku. Kesendirian itu bukan sesuatu yang nyaman, namun menyamankan diri dengan memangsa diri yang lain juga bukan suatu yang bisa dibenarkan. Jalanku terlalu jauh mendahuluimu, kalaupun kau melangkah lima kali lebih cepat dariku. Tapi kau tak tau apa yang aku dapat disetiap persimpangan yang aku pilih di jalur lambat.

Sepertinya aku tak sekuat dan sesiap yang aku pikirkan saat terbangun tadi dan membuka komputerku. Setelah membaca kembali apa yang aku tulis, rasanya aku masih saja terbawa suasana masa lalu. Aku tak ingin terlalu jauh menulis tanpa kejelasan isi, mungkin esok aku bisa menulis di bagian kedua tanpa harus mengingatmu walau kutujukan padamu.

Bersambung..

Iklan