Tag

, , ,

Hai sobat, apa kabarmu hari ini? Rutinitas yang tidak jauh beda bukan dengan yang aku jalani. Menjadi pucat di bawah AC tempat kerjamu, tidak apa sebab kau pun malas berjemur untuk mewarnai kulit warisan gen nenek moyangmu itu. Rimba raya kota di luar sana memang sedang kurang menyenangkan untuk bercanda, masih ada suara-suara TOA yang sesekali membuatmu berkecil hati, kalaupun kau kata tidak lagi.

Hai sobat, aku menulis ini sebab aku merasa ingin. Aku ingin merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-72. Kau sudah tahu, apa slogan untuk angka 72 dalam kemerdekaan kita bernegara; kerja bersama. Ya, ‘kerja bersama’ yang memiliki arti menunjukan pendekatan yang bersifat merangkul dan memperlihatkan asas kebersamaan serta gotong royong dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik. Sesuai dengan tema kemerdekaan ke-72 ini yaitu kebersamaan.

Seperti halnya kau yang merayakan dengan suaramu itu, aku ingin menulis sebab itu yang aku bisa. Walau kau tidak memberi satu lagu pun untukku sebagai kado kemerdekaan. Tapi setidaknya tulisan ini sebagai kado kemerdekaan untuk aku sendiri, kau, dan siapapun. Aku sudah memutar berulang lagumu itu. Suaramu masih sama, membawa doa dan harapan atas sebuah cita-cita.

Kau tahu apa yang belum aku miliki? Keberanian dan keteraturan bersuara. Aku tidak seperti kamu yang bisa menyuarakan sesuatu dengan nada yang enak di telinga orang lain. Maka aku berterimakasih atas kado kemerdekaan darimu untuk Indonesia.

Sobat, satu-satunya kekhawatiranku sekarang adalah kehilangan keberanian. Kau tahu aku walau belum lama kita berkenalan. Kau tahu betapa sulitnya aku memerdekaan diriku sendiri. Seperti katamu aku memang tidak harus menyendiri dan menjauh dari keramaian, aku bisa berada di keramaian tapi pikiranku berada di entah berantah, aku sulit beradaptasi seperti yang kau tahu dan kau coba bantu pecahkan masalah itu. Maka aku bisa dikata masih berjuang untuk kemerdekaan diriku. Begitu pun berlaku padamu, mungkin. Seperti itulah kemerdekaan yang paling dekat dengan diri kita.

Sobat, aku melihat keberanian yang cukup di dalam dirimu. Cara berpikirmu mengingatkan tahun-tahun lalu yang sudah aku telanjangi. Tentu tidak menjadi soal untuk seorang sepertimu, yang sudah basah diguyur hujan realita. Aku tidak sedikitpun meragukan dirimu atas pikiran-pikiran yang sesekali meresahkanmu. Aku yakin kamu akan bisa dan terbiasa, dan kelak akan menyuara dengan sempurna.

Tapi sobat, aku sedikit sakit hati. Dan entah mengapa aku harus sakit hati lalu khawatir ketika kau mulai merasa rendah diri dan mengungkit perbedaan. Kau tahu sobat, betapa luas dan kayanya negara kita ini? Ya kau tahu itu. Perbedaanlah yang menjadikan ia kaya, maka sebab ia sudah menjadi kaya dan ‘merdeka’ memang ada yang menjadikan ‘perbedaan’ sebagai alat berkendara. Tidak apa, tidak mengapa, sebab begitulah jamaknya. Mungkin sebab kita sebagai sebuah bangsa memang belum dewasa, atau menolak dewasa atau dikebiri untuk dewasa?

Sobat, lebih dalam lagi aku benar-benar merasa mendidih ketika kau bertanya soal pribumi dan non-pribumi. Kukira sudah habis kita mendebat, sudah saatnya bergandengan erat. Aku tidak akan mengulasnya di suratku ini, sebab kupastikan kau jauh dan sudah sangat mengerti.

Aku mengerti bagaimana caramu melihat dari sudut pandangmu. Aku pernah berada di posisi itu. Pun apakah kita tidak bergerak ke depan? Jawabanya adalah harus terus ke depan. Yang sudah biar terganti, yang tua sebentar lagi tak kuasa, maka kita  bersiap sedia melanjutkannya. Tidak perlu menjadi seorang jendral untuk menyebarkan rasa kasih dan kemanusiaan. Cukup menjadi diri sendiri, terus berkarya dan melaju, hilangkan sekat pembatas dan jadikan perbedaan sebagai bagian dari kemerdekaan sebab itu komposisi mutlak berdirinya bangsa ini.

Sobat, jangan berkecil hati, jangan rendah diri, jangan takut, jangan mundur. Tetaplah bersuara, ciptakan keindahan dalam nada, sebar cinta dan kasih, peluk kemanusian, sebab itu yang ada jauh di dalam dirimu. Pesan inipun berlaku untuk diriku.

“Aku tidak punya alasan untuk mencintai Tuhan. Demikian Tuhan pun tak perlu cintaku beralasan. Tuhan telah menciptakan aku dan kamu berbeda; rupa, warna, dan segala pembeda lainnya. Untuk apa? Bukankah untuk saling mengenal. Begitu juga dalam bernegara. Aku tidak pernah memilih menjadi siapa aku, terlahir sebagai suku apa aku. Yang aku tahu aku lahir di tanah ibu pertiwi Indonesia ini. Tidak perlu alasan untuk aku mencintai Indonesia dan Indonesia tak perlu cintaku beralasan”

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, ’72 Tahun Indonesia Kerja Bersama’ dan mari rayakan kemerdekaan dengan perbedaan.

Surat ini dapat juga dibaca di kolom Dari Hati https://obrolin.wordpress.com/2017/08/18/dari-hati-surat-merdeka-untuk-temanku/

Temukan tulisan menarik lainnya di Obrolin. Terimakasih.