Tag

, ,

16 September 2017, itu hari Sabtu aku pulang bertemu ibu. Semenjak Ibu dan Bapak memutuskan untuk kembali tinggal di Wonosobo, aku bisa lebih sering bertemu mereka.
Jarak antara Jogja dan Wonosobo bisa ditempuh dengan laju sepeda motor yang santai 40 KM – 60 KM / jam dan biasanya aku butuh 3 jam untuk sampai di beranda depan rumah Ibu.

Rumah yang memang sudah lama tidak didiami itu penuh kenangan bagi Ibu. Ketika sedang bersih-bersih dan merapikan kembali tata letak ruangan Ibu menemukan radio tape compo. Kata Ibu radio tape compo itu kesayangan Bapak. Aku penasaran, sayang kabel dayanya sudah putus dimakan tikus barang kali.

Aku coba cari model kabel daya yang sesuai dengan radio tape compo itu, tapi di beberapa toko elektronik dan tempat servis elektronik tidak ada yang cocok.

Sebuah kebetulan, Nanda tiba-tiba memainkan printer tuaku jaman kuliah dulu, dia menjatuhkan printer itu. Lalu aku melihat kabel daya printer itu sama persis dengan kabel daya radio tape compo. Seketika insting otak atek gathok ala orang Jawa Indonesia pun merasuki diriku. Dan, tara… Pas.

Dengan hati-hati aku dan Ibu mencoba menghidupkan radio tape compo itu, takut kalau konslet karena asal pasang kabel daya. Apa yang terjadi, ya radio tape compo itu hidup, suaranya masih sempurna, tombol-tombol yang ada masih berfungsi dengan baik, kecuali fungsi pemutar kaset yang mulai sendat, tapi untuk radio ini masih normal dan lancar jaya.

“Masih sama seperti saat kamu dan abangmu kecil dulu” begitu komentar Ibu setelah radio tape compo itu berdendang merdu.

Lalu Ibu menyeduh teh, aku tidak bisa menolak teh seduhan Ibu, tiada tara. Sambil ngeteh bersama Ibu dan menunggu Bapak pulang, kami bercerita banyak hal.

Penyiar radio terus berbicara dengan asyiknya lalu memutar satu lagu dari Sheila On 7, Perhatikan Rani. “Lagu spesial dari Sheila On 7 untuk kita pada siang hari ini, Perhatikan Rani” PLAY.

“Ibu punya anak lelaki, waktu kecil dulu dia suka sekali Sheila On 7 tapi bukan Rani” ucap Ibu sambil melirikku.
“Anak kecil itu aku kan bu?” Ya aku suka Sheila On 7 sejak kecil, ketika Abangku lebih sering membeli kaset Bumerang, Jamrud dan Dewa. Aku hanya bisa menunggu Sheila On 7 di radio.
“Sebentar, maksud Ibu bukan Rani?” aku melanjutkan.
“Kalau tidak salah Silvia kan?” Ibu balik bertanya.
“Sephia bu, itu lagu di album kedua tahun 2000 rilisnya” Jawabku.
“Iya Sofia” Ucap Ibu.
“She bu, Se..phi..a, Sephia” Aku mencoba membenarkan.
“Terserahlah, mau Silvia, Sopia, asal bukan Rani” Ucap Ibu.
“Iya, bukan rani”
“Hahahaha” aku dan Ibu tertawa, lanjut menikmati teh yang mulai dingin.

Aku tidak pernah menyangka Ibu masih ingat itu. Ingat aku suka bernyanyi di depan radio, dan Ibu tahu bahwa anaknya tidak punya bakat tarik suara. Dan Ibu ingat aku suka Sheila On 7 walau sebenarnya Ibu tidak tahu bahwa itu sebuah Ban. Ibu ingat, aku pernah berkelahi dengan Rani sahabat kecilku yang aku pernah jatuh hati ketika mulai sama-sama dewasa.

“Iya Ibu bukan Rani lagi tapi Wanti” Dalam hati.

Kalau sobat sekalian, ada kenangan lagu bersama Ibu? Beritahu kepadaku! ๐Ÿ˜Š

Jogja 19 September 2017
Mudjirapontur

Iklan