Tag

, , ,

Konsisten. Sebuah kata yang sudah berulang kali menjadi kata kunci dalam hidup saya. Kata ini yang kemudian mejadikan saya berangsur menghilangkan keraguan dari apa yang ingin saya capai. Bukankah “perjuangan tak pernah ingkar janji” dan konsisten adalah kunci perjuangan sejati. Ealah malah kayak orasi motivasi.

Baik. Konsisten menulis untuk blog. Menulis bagi saya adalah tentang bagaimana menemukan segala sesuatu ‘ide’ yang kita lihat, dengar, dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Lahirnya sebuah ‘postingan’ dalam wujud tulisan itu dengan menuliskannya, tulis apa sana dengan jujur, dan jangan menunda untuk menulisnya.

Sebab hari sebelumnya saya berjanji kepada kawan blogger saya Belly yang suka ngomong elo gue, penghuni blog bellyrp freedom silakan dikunjungi dan main-main di sana, tenang saja pemiliknya ramah sebab dia menulis untuk kebebasan. Karena janji sebaiknya ditepati maka saya coba kembali merapikan apa yang pernah saya ketik sebelumnya untuk sebuah diskusi online tentang bagaimana agar konsisten menulis di blog.

Ya langsung saja. Bagaimana agar konsisten menulis setiap hari, sementara kita sama-sama mengalami:
1. Malas menulis
2. Kosong inspirasi
3. Atau, bingung mau menulis apa.

Saya sendiri sering kali mengalami tiga keadaan di atas. Ada beberapa hal yang biasa saya lakukan untuk tetap mengisi post di blog saya.

1. Mulai dengan Membuka dan baca Blog
Setiap hari saya membuka blog, tujuannya tentu saja untuk melihat perkembangan yang ada di blog saya. Melihat seperti apa keadaan anak-anak saya, terutama yang baru saya lahirkan dan perkenalkan kepada pembaca. Kemudian baca kembali beberapa post secara acak. Dari membaca post tersebut biasanya akan muncul kembali ingatan saat kita memiliki ide untuk menulis post tersebut.

Lihat update blog dari kawan-kawan yang lain. Baca post mereka, temukan ide dari post mereka, pahami, resapi dan lihat juga perkembangan dari tulisan mereka. Di sini kita sedang melakukan proses membaca dan belajar banyak dari orang lain.

“Membaca merupakan salah satu kunci agar tulisan kita lebih kaya lagi, tentunya dengan bahan bacaan yang beragam”

Tentu saja tidak hanya membaca blog, ya membaca apa saja, buku bacaan lebih lagi.

2. Jangan menunda
Ketika menemukan ide segera simpan. Jika ada alat tulis langsung tulis, bisa dengan kertas atau aplikasi menulis mana yang mudah dijangkau.

Saya sendiri kadang menyimpan apa yang saya pikirkan ‘wangsit ide’ dengan rekaman suara sebab bicara kadang lebih lancar dari pada menulis. Setelahnya baru kembali mendengarkan dan menuangkan dal bentuk tulisan.

3. Tulis suka-suka
Ketakutan terbesar saya ketika menulis adalah ‘pakem’ kepenulisan itu sendiri. Ketakutan akan kesalahan dalam tata bahasa kepenulisan.
Maka dengan sadar saya melepaskan diri dari ikatan aturan kepenulisan. Saya menulis suka-suka, yang saya tahu saya harus menulis itu saja. Dan saya menunggu keberlangsungan dalam proses menulis saya untuk lebih baik.

Saya benar-benar lumayan berhasil dengan proses menulis suka-suka. Seperti menulis status saja, kalau saya sedang 4l4y ya saya akan menulis 4l4y, tidak jadi soal.
Hanya saja, selalu terus belajar untuk memahami kepenulisan yang benar agar proses menulis menjadi lebih baik.

4. Menulis yang saya ‘lihat’
Jika saya melihat gelas, ya saya tulis gelas. Dari gelas bisa saya tulis seperti apa gelasnya, gelasnya terletak di mana, ada apa di dekat gelas, apakah bisa saya pegang, apakah bisa saya banting, apakah ada kopinya, atau apa saja.

Atau melihat keadaan sekitar. Misal ketika pagi saya sedang ngopi di angkringan dan melihat keruwetan, bisa saja saya kemudian menulis keruwetan itu. Kalau nasib sedang baik kadang bisa menjadi puisi. Sebab saya suka puisi.

“Orang-orang berebut celah jalan ketakutan, acuh pada cahaya pagi, gemetaran seolah waktu siap segera habis. Apa yang mereka kejar, apa yang mereka tuju, apa yang menunggu?” tulisan ini sebab melihat kemacetan dan serobot-serobotan.

Maka:
Untuk menulis kita harus ‘melihat’ dengan baik, yang paling penting dalam hidup adalah melihat, kita hidup melihat sesuatu. Penting sekali melihat sesuatu dengan baik. Melihat yang saya maksud tidak terpaku pada penglihatan fisik oleh mata saja ya tapi juga rasa.

5. Blog itu milik pribadi, tidak ada guru yang menilai.
Dari poin 3 dan 4, maka poin lima ini adalah kelanjutannya. Santai saja, tidak ada yang akan menilai kita benar atau salah lalu membuat kita tidak naik kelas.

Keresahan yang kita miliki, apa yang kita pikirkan buat terus mengalir. Jangan takut akan caci maki dan komentar negatif, sebab keduanya itu yang akan membuat kita semakin belajar.

Jangan pernah memikirkan penilaian dari tulisan kita. Sebab ketika itu mulai menghantui, jelas saja berhentilah kalimat yang ada di kepala. Blog itu milik pribadi, isinya adalah pribadi, kalau ada yang mengonsumsi itu bonus saja. Bagi saya begitu.

Tapi jangan menyebar hoax ya. Sebarlah catatan pribadi, apa yang ada dalam pikiran yang kita alami.

6. Ngeblog bukan untuk jadi artis
Jangan berangkat ngeblog untuk jadi terkenal. Ketika itu tujuannya maka kita akan terkunci dalam ruang angan-angan. Akan terlalu banyak pertimbangan yang ujungnya kita justru tidak menulis apapun.

Berharap boleh, tapi ingat tujuan utamanya adalah menulis itu saja. Semua orang bisa menulis tapi tidak semua orang bisa jadi penulis, apalagi penulis plus artis.

7. Kenali Diri
Ini penting. Saya mengerti saya bukan penulis, saya suka puisi, saya suka bercerita sehari-hari. Maka saya coba gali apa yang saya senangi tersebut.

Setiap kita punya hobi, punya kehidupan pribadi, punya segala sesuatu yang berbeda dengan orang lain. Gali itu, dan jadikan bahan untuk menulis. Dari kita kenal diri kita, maka kita akan kenal kategori tulisan kita.

Menulis gado-gado? Tidak jadi soal, nanti pasti ada yang lebih menonjol. Suka curhat? Suka Curhat jadi nilai lebih, curhat saja setiap hari di blog, luapkan dan rasakan hasilnya dalam bentuk tulisan.

8. Paksa dan lakukan
Ya. Harus dipaksa. Harus ada waktu. Setiap saat, kapan pun dan di mana pun. Wajib hukumnya. Sebab tanpa dipaksa, semua ide ya jadi tak berwujud kan? Paksa menulis bahkan di waktu sibuk sekalipun. Tulis di mana saja, atau rekam.

***
Apa yang saya sampaikan di atas bukan berarti saya sudah benar-benar melakukan dengan sempurna. Saya sedang belajar, dalam proses itu delapan hal di atas yang saya coba terapkan. Mari bersama kita belajar. Belajar menulis kenangan dan luka dari mantan yang ngapleki itu.

Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi.
-Pramoedya Ananta Toer

Boleh sekali untuk membaca Panduan Singkat Menulis Cerpen.

Terimakasih telah membaca. Salam.

Mudjirapontur

Iklan