Tag

, ,

Hai selamat datang di bulan Oktober, selamat hari kopi internasional, selamat hari batik nasional dan tentu selamat hari kesaktian Pancasila. Seperti janji saya sebelumnyaakan kembali mengadakan semacam giveaway kalau bahasa kerennya. Intinya berbagi bukulah. Nah sebelumnya saya pernah kasih tantangan bagaimana Konsisten Menulis di blog dan saya sudah kirimkan Buku Indonesia Merdeka Karya Bung Hatta untuk pemenang. Semoga mendarat dengan selamat dan dapat dibaca sebagai ilmu yang bermanfaat amin.

September meninggalkan satu ingatan soal upaya pengambilalih kekuasaan alias kudeta dengan G30s-nya, yang masih misteri dalam perdebatan. Tentu saja peristiwa G30s sebagai bagian sejarah dengan segala sudut pandangnya. Kekuasaan memang bisa menjadi amat berbahaya, terlebih di negara dengan beragam perbedaan seperti Indonesia. Akan tetapi kekuasaan juga bisa mengayomi perbedaan yang ada, maka lahirlah Pancasila dengan Bineka Tunggal Ika yang merangkul segala perbedaan.

Sebab September Ceria sudah kita nikmati bersama, dan Oktober Kesaktian Pancasila sedang berlangsung, saya akan berbagi buku kembali. Kali ini tidak satu, tapi tiga. Iya tiga buku untuk tiga pemenang.

Dalam giveaway kali ini saya akan membagikan tiga buku Kekuasaan Sebagai Wakaf Politik, buku ini saya rasa sesuai dengan bulan Oktober Kesaktian Pancasila.

Caranya bagaimana? Gampang.
1.
Buat tulisan bebas mengenai pendapat kamu tentang; 1). Kepemimpinan dalam masyarakat multikultural di Indonesia dewasa ini. Boleh bercerita tentang daerah masing-masing. 2). Bagaimana kamu mengelola/memaknai keberagaman dalam kehidupan sehari-hari. Silakan ceritakan. pengalaman masing-masing.
3). Pendapat kamu tentang slogan ‘Saya Indonesia Saya Pancasila’.
2.
Tema tulisan dapat memilih salah satu dari tiga di atas. Menulis semua tema juga boleh.
3.
Tidak ada batasan berapa judul tulisan dan berapa tema yang diikut sertakan.
4.
Tulisan di posting di blog atau media sosial lain yang mendukung fitur menulis panjang seperti Facebook dengan fitur catatan yang tersedia.
5.
Sertakan link/url postingan give away ini di post/tulisan teman-teman.
6.
Sertakan Link/url postingan teman-teman di kolom komentar pada postingan ini.
7.
Jangan lupa ikuti blog saya jika berkenan.
8.
Boleh sekali untuk mengirim juga ke FP Facebook saya Rata TengahDan jangan lupa like jika tidak keberatan.
9. Tulisan asli karya kawan-kawan bukan plagiat, apa lagi ctr+c ctr+v, dan sejenisnya.

10. Sampai kapan batas waktunya? Sampai 31 Oktober 2017.
11. Sudah gitu aja.

Lantas siapa yang akan menilai dan menobatkan pemenang? Untuk urusan ini tenang saja, saya sudah meminta dua orang teman yang bersedia membaca setiap tulisan yang masuk untuk memberi penilaian. Tentu saja bukan Dalbo dan Kepik, juga bukan Wanti, apalagi mantan.

Berikut Review Buku Kekuasaan Sebagai Wakaf Politik: Manajemen Yogyakarta Kota Multikutural
Judul Buku : Kekuasaan sebagai Wakaf Politik: Manajemen Yogyakarta Kota Multikultur.
Penulis : Herry Zudianto (Wali Kota Yogyakarta Periode 2001-2006, 2006-2011)
Penerbit : Impulse dan Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : vii + 167 halaman

Kota Yogyakarta yang berdiri sejak tahun 1756, telah mengalami perjumpaan dengan agama-agama besar di dunia, seperti Hinduisme dan Budhisme, Islam dan Kristen. Juga dengan budaya-budaya besar dari luar, seperti Eropa, Cina, Arab, dan India, kemudian disusul budaya-budaya dari berbagai wilayah nusantara.

Dalam kurun waktu dua setengah abad itu Kota Yogyakarta bertumbuh pelan-pelan menjadi sebuah kota dengan basis budaya Jawa dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang terbuka dan inklusif bagi kultur yang lain, dan oleh karena itu kemudian menjadi pusat kekaguman dunia sebagai kota budaya.

Selain itu dalam perjalanannya Kota Yogyakarta juga memiliki predikat sebagai kota pendidikan dan city of tolerance. Kedua predikat ini saling berhubungan satu sama lain dalam membentuk multikulturalisme Yogyakarta. Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta memiliki pengalaman multikultural yang panjang dan teruji, terutama dalam kontak dengan budaya lain yang datang bersama dengan para pelajar dan mahasiswa dari berbagai pelosok nusantara untuk belajar di Yogyakarta.

Maka, hakikat dan kualitas toleransi yang dimiliki kota Yogyakarta pun banyak ditentukan oleh relasi-relasi intelektual. Seandainya Kota Yogyakarta adalah kota industri maka pola-pola interaksi sosial dan bentuk-bentuk toleransi yang dihasilkan pun akan berbeda.

Warga Yogyakarta memandang predikat city of tolerance yang disandang mempunyai kontribusi terhadap berbagai prestasi yang diraih kota ini. Toleransi yang berarti ada harmoni, saling pengertian, dan kesediaan untuk saling menerima, saling mengikuti dan mau bekerja sama. Karena itu toleransi dalam konteks ini mengandung makna yang lebih luas melampaui pengertian toleransi antar suku/etnis, agama dan kebudayaan.

Toleransi dalam konteks ini menyentuh aspek struktur sebuah masyarakat di mana tidak ada kesenjangan sosial dan ekonomi yang tidak dijembatani di dalam masyarakat yang dapat memicu konflik antarkelompok masyarakat. Karena semangat toleransi dalam pengertian ini pula maka para warga, tanpa membedakan status dan kelas sosial, bisa memiliki tingkat kekompakan yang tinggi dalam menjaga ketertiban, kebersihan dan keindahan kota sebagai tanggung jawab bersama.

Penghargaan terhadap Kota Yogyakarta sebagai satu-satunya kota yang berhasil menangani pemukiman kumuh, juga penghargaan adipura dan sanitasi-semuanya bisa tercapai tiada lain karena semua warga kota dari berbagai latar belakang etnis/suku, agama, afiliasi politik, dan kelas sosial itu kompak, satu tindakan bersama-sama dengan pemerintah kota untuk mewujudkan Kota Yogyakarta yang bersih dan nyaman.

Berangkat dari cara pandang di atas, realitas multikultural Kota Yogyakarta tidak hanya menyangkut pengakuan dan memperhitungkan keragaman etnis/suku, bangsa, agama, kebudayaan, aliran politik, dan sebagainya tetapi juga keberagaman kelas sosial-ekonomi, tingkat pendidikan, profesi, cara pandang, kebiasaan-kebiasaan sehari-hari, dan sebagainya, singkatnya semua komponen masyarakat Kota Yogyakarta dengan segala realitas kehidupan mereka. Dengan demikian tidak ada kelompok masyarakat yang merasa dipinggirkan dan tidak mendapat perhatian yang layak dari pemerintah kota dan masyarakat lain.

Sejalan dengan itu semua, kehadiran buku ini yang ditulis Herry Zudianto menurut saya tidak saja ingin mengangkat kegundahan seorang pemimpin dalam menatap dan menata kebijakan sebuah kota yang multikultural; juga bukan ratapan atas kehilangan jati diri masyarakat Yogyakarta yang sesungguhnya amat menjunjung tinggi filosofi teposeliro. Buku ini, dalam segala kekurangan dan kelebihannya, menawarkan perspektif tersendiri dalam melihat dimensi-dimensi kehidupan sosial yang amat mendasar dan penting dalam menjaga dan merawat kebersamaan.

Salah satu persoalan yang amat penting dalam buku ini adalah bagaimana mengelola perbedaan dengan cara-cara demokratis, dialogis dan santun sesuai tata krama kultur yang mengakar. Jika paradigma resolusi konflik pada umumnya mengedepankan pengelolaan perbedaan, maka buku ini menawarkan sebuah paradigma khas; bagaimana mengelola kesamaan untuk merawat kebersamaan agar tidak terkikis oleh wacana-wacana dikotomi yang dibawa oleh perbedaan.

Keberanian dan kemampuan untuk melihat kesamaan-kesamaan yang dimiliki seseorang atau sekelompok masyarakat dengan pihak lain berfungsi sebagai filter untuk tidak serta-merta memandang mereka yang lain dengan segala perbedaan mereka itu sebagai lawan. Sebaliknya, kemampuan mengidentifikasi kesamaan-kesamaan berfungsi sebagai langkah etis untuk menghargai perbedaan tanpa niat untuk mengubah mereka yang lain agar menjadi sama dan seragam sesuai dengan kemauan kita (hal.152).

Kesamaan yang hendak diidentifikasi itu juga melampaui pengertian kesamaan identitas. Dialog dan masalah etika komunikasi sebagai syarat demokrasi, sebagaimana digali dan diangkat ke permukaan dalam buku ini, menjadi inspirasi yang amat berharga untuk menyebut apa itu kesamaan: kesamaan atau kesetaraan sebagai partner dialog yang tetap menjunjung tinggi sikap respek terhadap martabat manusia dan posisi sosial masing-masing; kesamaan dalam semangat mencari titik temu dalam memecahkan persoalan yang ditimbulkan oleh perbedaan cara pandang; dan kesamaan untuk mau berubah secara bersama-sama.

Kesamaan-kesamaan dalam pengertian ini lebih dari sekedar kesamaan yang diwariskan, melainkan kesamaan dinamis, kesamaan yang terus-menerus diupayakan untuk menemukan common platform dalam rangka membangun kesepakatan-kesepakatan bersama.

Jika ada yang dapat disebut sebagai kegelisahan dalam buku ini maka kegelisahan itu adalah gejala mulai menguatnya individualisme yang telah menggerogoti hampir semua aspek kehidupan warga Kota Yogyakarta. Semangat individualisme pribadi maupun kelompok telah mengancam wajah Kota Yogyakarta menjadi kapitalis, individualis, dan materialistis, jauh dari filosofi teposeliro dan humanisme. Kegelisahan dalam buku ini adalah kegelisahan seorang warga kota (citizen) yang kebetulan menjadi Walikota yang bertanggung jawab mengelola tata kehidupan sebuah komunitas masyarakat warga (society) dalam kota.

*) Tulisan ini dimuat di Majalah Flamma, April-Juni 2009 | M Nurul Ikhsan Saleh

Nah sudah baca reviewnya kan? Penasaran dengan buku ciamik penuh inspiratif ini? Yaudah, silakan untuk ikutan. Sebarkan post ini juga boleh.

Terimakasih. Salam.
Mudjirapontur.

Iklan